Suatu sore di tahun 92, saya duduk di pinggir sebuah danau kecil di kawasan Lembah Lowe yang terletak pada area pegunungan Lompobattang, Sulawesi Selatan. Tempat ini merupakan titik kesekian saya dalam upaya memastikan posisi beberapa puncak yang tidak tercantum pada peta dengan menggunakan teknik intersection. Kami memang sedang dalam misi mempersiapkan area ini untuk dijadikan lokasi kegiatan yang akan berlangsung beberapa waktu kemudian. Merasa tugas yang diberikan untuk hari itu telah kelar dan waktu - sebelum malam membutakan pandangan - masih banyak, saya pun mencoba mencari sebuah tempat
yang belakangan membuat saya dan seorang teman sangat penasaran. Sebuah tempat yang diyakini banyak pendaki saat itu musykil untuk dilewati. Sebuah tempat yang dikenal dengan sebutan Patahan Pos 13 Bawakaraeng.
Saya lalu bergerak turun ke barat untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas. Namun beberapa saat kemudian saya sadar, sejauh-jauhnya bergerak, selama masih dalam kawasan lembah lowe, saya akan kesulitan melihat secara pasti tempat yang dimaksud. Dinding barat (West Face) Bawakaraeng rupanya terlalu besar untuk menghalangi pandangan dari danau kecil tadi.
Meski demikian, saya cukup terhibur dengan “penemuan” sebuah titik yang saat itu saya yakini merupakan gerbang dari South-West Ridge (punggungan barat daya) gunung Bawakaraeng dimana Patahan Pos 13 berada. Titik tersebut adalah sebuah Col (celah kecil) yang berada pada punggungan besar yang menghubungkan kawasan Gunung Bawakaraeng dengan Gunung Lompobattang. Pastinya, Col tersebut berada tepat ke arah berlawanan dengan Col yang sekarang sering digunakan sebagai tempat turun ke arah Lembah Lowe dari Lompobattang. Di antara dua col tersebut terdapat sebuah puncak yang tak bernama, baik di dalam peta maupun kalau kita mau sedikit repot bertanya. Beberapa penduduk di kaki gunung yang pernah saya tanyai tidak dapat memberikan keterangan pasti soal nama puncak itu.
Saya lalu mengabari kemungkinan tersebut kepada kawan saya yang juga penasaran ingin melewati tempat itu. Dengan pengalaman Navigasi Darat dan Rock Climbing yang masih mentah, kami amat yakin bisa sampai ke puncak Bawakaraeng melalui patahan pos 13. Kami telah merencanakan sebuah survei dan pembuatan piton khusus untuk memanjat tebing batu bercampur tanah di atas sana. Namun belakangan wacana gila kami kemudian tertutupi oleh godaan puncak-puncak perawan yang banyak tersebar di sebelah utara Sulawesi Selatan saat itu. “Panggilan” patahan pos 13 pun perlahan-lahan terlupakan dan kami lebih banyak berbaring bersama mimpi-mimpi utara.
Namun mimpi kami berdua saat itu - yang bagi beberapa orang dianggap bodoh dan gila – kembali menyeruak dalam diri saya beberapa waktu yang lalu ketika mendapatkan aplikasi dari Google Earth yang memungkinkan kita melihat beberapa tempat di bumi dengan cukup detail melalui fasilitas tour 3 dimensinya. Sekonyong-konyong saya tersentak meyaksikan bagaimana Google Earth melakukan Cross Section (belah penampang) terhadap Bawakaraeng dengan begitu indah. Aroma petualangan segera merebak ketika menyaksikan kecuraman East Face atau tingkat kesulitan yang ditawarkan West Face gunung itu
Dengan antusias, saya pun mulai melakukan zoom sampai batas maksimal terhadap titik yang saya impikan hampir19 tahun yang lalu itu. Dan, aha, niat kami dulu tidak sepenuhnya bodoh. Saya semakin yakin kalau patahan pos 13 punya kemungkinan untuk didaki! Google Earth sangat membantu mengenali area sekitar, meski tidak sepenuhnya dapat menjawab secara benar.
Jika perkiraan saya pada survey literatur dengan bantuan Google Earth ini benar, maka Col tersebut kurang lebih berada pada titik 5019’48.84”S dan 119056’07.54”E dengan elevasi 2346 m dpl, sementara titik aman menuju puncak Bawakaraeng via South-West Ridge adalah pada 5019’38.52”S dan 119056’19.64”E dengan elevasi 2489 m dpl. Itu berarti pendakian (pemanjatan?) akan lebih banyak mengarah ke timur laut (sudut kompas 450) dengan rentang elevasi setinggi kurang lebih 143 m vertikal. Ini kemungkinan adalah crux (bagian tersulit) dari rute South-West Ridge Bawakaraeng.
![]() |
Click gambar untuk memperbesar |
Sekali lagi, perkiran tersebut masih dalam konteks “jika saya benar”. Dibutuhkan survey on the spot minimal sekali untuk memastikannya. Dengan posisi sekarang yang jauh dari Bawakaraeng, hal tersebut menjadi impian “sekali lagi” bagi saya pribadi. Tapi dengan skill, peralatan dan pengalaman yang jauh lebih baik dibanding kami dahulu, para pendaki sekarang nampaknya sangat layak untuk mempertimbangkan rute ini.
Bila ada yang berminat mencobanya, saya cuma bisa support dengan file tour Google Earth yang saya telah rekam sebelumnya. File ini berekstensi .kmz dan bisa diunduh disini. Pastikan juga GoogleEarth-Win-Plus-5.0.11729.1014 telah terinstall pada PC anda supaya dapat menjalankan tournya secara offline nanti, sehingga segala sisi Bawakaraeng bisa diamati dengan lebih leluasa. Kalau belum punya, anda dapat mengunduhnya disini.
Kami berdua dulu mungkin terlalu banyak membaca kisah pendakian rute-rute sulit di gunung-gunung besar seperti yang terjadi di pegunungan Alpen atau Himalaya. Saya juga mungkin terlalu berlebihan menuntut Tuhan dengan seringnya berandai-andai Bawakaraeng diliputi salju, sehingga dinding batu bercampur tanah yang rapuh bisa menjadi dinding es yang solid untuk digunakan untuk menambah ketinggian. Namun kita semua tentu sepakat bahwa tidak ada larangan bagi seseorang untuk bermimpi. Bukankah banyak hal yang telah dicapai oleh manusia yang berawal dari hanya sebuah mimpi?
Akhirnya, saya sangat berharap feedback dari para pembaca, terutama jika saya salah dalam penentuan Patahan Pos 13 pada GoogleEarth di atas. Saya juga tentu amat bahagia bila mendengar seseorang telah berhasil melewatinya dan dengan rendah hati mengabari tentang apa yang terdapat di atas sana, juga menceritakan betapa Tuhan sekali lagi telah memberi manusia sebuah toleransi, bukan sebuah bukti penaklukan terhadap sebuah gunung.